Bank Syariah

Sejak 1998 keberadaan bank syariah di Indonesia telah diatur melalui UU No. 10 tahun 1998 tentang Perubahan UU No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan. Berdasarkan data MUI, hingga Agustus 2007 jumlah perbankan syari’ah yang sudah mendapat rekomendasi DSN-MUI (Dewan Syari’ah Nasional Majelis Ulama Indonesia), mencapai lebih dari 30 bank dan ratusan BPRS (Bank Perkreditan Rakyat Syari’ah).

Perbankan syari’ah pada umumnya menganut prinsip-prinsip berdasarkan hukum Islam, seperti:

1. Pembayaran terhadap pinjaman dengan nilai yang berbeda dari nilai pinjaman dengan nilai ditentukan sebelumnya tidak diperbolehkan.

2. Pemberi dana harus turut berbagi keuntungan dan kerugian sebagai akibat hasil usaha institusi yang meminjam dana.

3. Islam tidak memperbolehkan “menghasilkan uang dari uang”. Uang hanya merupakan media pertukaran dan bukan komoditas karena tidak memiliki nilai intrinsik.

4. Unsur Gharar (ketidakpastian, spekulasi) tidak diperkenankan. Kedua belah pihak harus mengetahui dengan baik hasil yang akan mereka peroleh dari sebuah transaksi.

5. Investasi hanya boleh diberikan pada usaha-usaha yang tidak diharamkan dalam Islam. Usaha minuman keras misalnya tidak boleh didanai oleh perbankan syariah.

Perbedaan

Perbankan syari’ah mempunyai perbedaan yang cukup mendasar dibandingkan dengan perbankan konvensional. Bank syariah melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah dalam memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran, sedangkan bank konvensional didirikan untuk mendapatkan keuntungan material sebesar-besarnya.

Di bidang investasi, bank syari’ah berinvestasi pada usaha yang halal, sedangkan bank konvensional bebas nilai. Dalam pengelolaan, bank syari’ah menggunakan prinsip syari’ah yang melarang diterapkannya sistem bunga kepada nasabah, namun dikenal prinsip bagi hasil. Sedangkan bank konvensional menghalalkan bunga bank.

Dalam hal bagi hasil, besaran bagi hasil pada bank syari’ah berubah-ubah sesuai kinerja bank. Bila bank mengalami keuntungan, maka besaran bagi hasil akan bertambah. Sedangkan pada bank konvensional besarnya bunga adalah tetap, meski bank mengalami keuntungan, besarnya bunga tidak bertambah.

Perbedaan lainnya, pada bank syari’ah ada keharusan memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS) dalam struktur organisasinya. Sedangkan pada bank konvensional, tidak ada keharusan memiliki lembaga sejenis itu.

Perbedaan mendasar antara bank syari’ah dengan bank konvensional, terletak pada tujuannya. Tujuan bank syari’ah selain berorientasi kepada keuntungan (profit) juga berorientasi kepada falah. Artinya bank syariah tidak semata-mata mencari profit tetapi juga berusaha meraih kemenangan baik di dunia maupun di akhirat. Kemenangan di dunia artinya keberhasilan menunjukan bahwa bank syariah adalah sistem perbankan yang terbaik, sedangkan kemenangan di akhirat berupa pahala dan kebaikan di sisi Allah. Sedangkan tujuan bank konvensional adalah profit oriented yaitu semata-mata mencari keuntungan dunia.

Bank Muamalat Indonesia (BMI)

Sebagai perintis perbankan syari’ah di Indonesia Bank Muamalat Indonesia (BMI) didirikan pada tanggal 24 Rabius Tsani 1412 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Nopember 1991. BMI memulai kegiatan operasinya pada tanggal 27 Syawwal 1412 H atau bertepatan dengan tangal 1 Mei 1992.

Lebih dua tahun sejak beroperasi, tepatnya pada tanggal 27 Oktober 1994, BMI berhasil menyandang predikat sebagai Bank Devisa. Pada akhir tahun 90-an, ketika Indonesia dilanda krisis moneter, sektor perbankan nasional tergulung oleh kredit macet di segmen korporasi, BMI pun terimbas dampak krisis, yaitu mengalami kerugian sebesar Rp 105 miliar.

Oleh karena itu, diperlukan upaya memperkuat permodalan. Dalam kaitan ini, BMI mendapat respon positif dari Islamic Development Bank (IDB) yang berkedudukan di Jeddah, Arab Saudi. Pada RUPS tanggal 21 Juni 1999 IDB secara resmi menjadi salah satu pemegang saham BMI. Dalam kurun waktu 1999-2002, BMI berhasil membalikkan kondisi dari rugi menjadi laba berkat upaya dan dedikasi setiap Kru Muamalat, ditunjang oleh kepemimpinan yang kuat, strategi pengembangan usaha yang tepat, serta ketaatan terhadap pelaksanaan perbankan syariah secara murni.

Menurut catatan, hingga akhir 2004, BMI tetap merupakan bank syariah terkemuka di Indonesia dengan jumlah aktiva sebesar Rp 5,2 triliun, modal pemegang saham sebesar Rp 269,7 miliar serta perolehan laba bersih sebesar Rp 48,4 miliar pada tahun 2004.

Sampai saat ini, selain BMI, ada dua bank umum lainnya yang secara khusus merupakan bank syari’ah yaitu Bank Syari’ah Mandiri dan Bank Syari’ah Mega Indonesia. Sedangkan belasan lainnya merupakan unit usaha syari’ah dari bank umum atau bank daerah (BPD).

Bank Syari’ah Mandiri (BSM)

Sekitar delapan tahun setelah kehadiran BMI, lahirlah Bank Syari’ah Mandiri (BSM) pada tanggal 25 Oktober 1999. Secara resmi BSM beroperasi pada tanggal 1 November 1999. Hampir seluruh saham BSM dimiliki oleh PT Bank Mandiri Tbk. yaitu sekitar 91.674.512 lembar saham. Sedangkan satu lembar saham BSM dimiliki oleh PT Sekuritas Mandiri. Modal dasar BSM sebesar Rp 1 triliun, sedangkan model disetor sekitar Rp 658 milyar lebih.

Sebagaimana perbankan syari’ah pada umumnya, BSM juga menerapkan prinsip-prinsip keadilan, kemitraan, keterbukaan, dan universalitas. Prinsip keadilan tercermin dari penerapan imbalan atas dasar bagi hasil dan pengambilan margin keuntungan yang disepakati bersama antara Bank dan Nasabah.

Sedangkan prinsip kemitraan, bermakna BSM menempatkan nasabah penyimpanan dana, nasabah pengguna dana, maupun Bank pada kedudukan yang sama dan sederajat dengan mitra usaha. Hal ini tercermin dalam hak, kewajiban, resiko dan keuntungan yang berimbang di antara nasabah penyimpan dana, nasabah pengguna dana maupun Bank. Dalam hal ini bank berfungsi sebagai intermediary institution lewat skim-skim pembiayaan yang dimilikinya.

Prinsip keterbukaan dapat dilihat melalui laporan keuangan BSM yang terbuka secara berkesinambungan, nasabah dapat mengetahui tingkat keamanan dana dan kualitas manajemen bank. Sedangkan prinsip universalitas bermakna, dalam beroperasi BSM tidak membeda-bedakan suku, agama, ras dan golongan agama dalam masyarakat namun tetap konsisten dengan prinsip Islam sebagai rahmatan lil’alamiin.

Bank Syari’ah Mega Indonesia (BSMI)

Sekitar lima tahun setelah BSM berdiri, sekitar tahun 2004 berdiri satu lagi bank syari’ah bernama Bank Syari’ah Mega Indonesia (BSMI). Sebelum menjadi BSMI, lembaga keuangan syari’ah merupakan pengembangan dari PT Bank Umum Tugu yang diakuisisi oleh Para Group pada tahun 2001. Para Group (PT Para Global Investindo dan PT Para Rekan Investama) merupakan kelompok usaha yang menaungi PT Bank Mega, Tbk., Trans TV, dan beberapa perusahaan lainnya.

Sejak semula, PT Bank Umum Tugu diakuisisi oleh Para Group untuk dikembangkan menjadi bank syariah. Tiga tahun setelah diakuisis, tepatnya pada tanggal 25 Agustus 2004 PT. Bank Umum Tugu resmi beroperasi sebagai bank syari’ah dengan nama PT Bank Syariah Mega Indonesia.

Pemegang saham mayoritas BSMI adalah PT Para Global Investindo mempunyai komitmen menjadikan BSMI sebagai bank syariah terbaik. Salah satunya diwujudkan dengan mengembangkan BSMI melalui pemberian modal yang kuat demi kemajuan perbankan syariah dan perkembangan ekonomi Indonesia pada umumnya.

Dalam upaya mewujudkan kinerja, BSMI berpegang pada azas profesionalisme, keterbukaan dan kehati-hatian. Selain itu, juga didukung oleh beragam produk dan fasilitas perbankan terkini.

Untuk memudahkan nasabah dalam memenuhi kebutuhannya, BSMI bekerjasama dengan PT Arthajasa Pembayaran Elektronis sebagai penyelenggara ATM Bersama serta PT. Rintis Sejahtera sebagai penyelenggara ATM Prima dan Prima Debit, agar nasabah dapat melakukan berbagai transaksi perbankan dengan lebih efisien, praktis, dan nyaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: